SEKILAS INFO
: - Sabtu, 22-09-2018
  • 7 bulan yang lalu / Penerimaan santri baru 2018 gelombang kedua, 1 Januari – 28 Februari 2018
Abdul Rozzaq Fakhruddin, Sang Pencerah yang Istiqomah

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 14 Februari 1916, nama aslinya adalah Abdur Rozzaq Fakhrudin atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Pak AR.

Menempuh pendidikan dasar di SD Muhammadiyah, Kotagede Yogyakarta pada tahun 1928. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru Muhammadiyah Darul ulum, Yogyakarta (1934). Setelah itu, Pak AR meneruskan sekolahnya di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Selain itu, Pak AR juga nyantri di beberapa pesantren.

Karier Pak AR di Muhammadiyah cukup menonjol, antara lain Guru Muhammadiyah di Palembang (1934-1944), Pengajar Sekolah Guru Muhammadiyah Yogyakarta (1944-1946).

Selain itu beberapa amanah di Persyarikatan Muhammadiyah dan ortomnya pernah beliau emban. Beberapa diantaranya, Ketua Kepanduan Hizbul Wathan (HW) (1934-1937), Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (1938-1941), Ketua Ranting, Cabang, Daerah Muhammadiyah sampai akhirnya menjadi Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1969-1990.

Fakhruddin dikenal sebagai penceramah yang andal. Orang-orang menyebut gaya ceramahnya serius yang dibumbui dengan kritik. Namun, beliau selalu mampu membuat audiencenya segar dan tertawa.

Dalam sebuah ceramahnya yang fenomenal, Pak AR pernah berkata, “Kita orang Islam yang begitu percaya pada Al-Qur’an, tetapi tidak pernah membuktikan kebenarannya. Sehingga, kebenaran itu malah dibuktikan oleh orang Amerika. Mereka berhasil membuat Apollo, sedangkan kita sudah puas hanya membuat es apollo.

Bahkan, dalam khutbah Jumat, Pak AR berkata, “Kita ini memang keterlaluan, diminta menyumbang untuk masjid selalu memberi Rp.25. Ada gaji ke-13, tetap Rp.25. Lho mau masuk surga kok, cuma bayar Rp.25? Surga macam apa itu?”

Sebagai pengisi tetap acara Mimbar Agama Islam di TVRI Yogyakarta, beliau disebut oleh penggemarnya sebagai pemersatu umat. Dengan santai, Pak AR menjelaskan masalah perbedaan cara beribadah, pengertian hukum, dan masalah keagamaan lainnya.

“Perbedaan kecil janganlah membuat kita terpecah, tetapi mempererat kita untuk saling menghargai dan bersatu. Pernyataan inilah yang membuat beliau disegani.

Kemampuan ceramah Pak AR mulai menonjol pada saat beliau masih kelas IV Standart School Muhammadiyah di Kotagede, Yogyakarta. Ayah beliau, K.H. Fakhruddin mendidiknya dengan penuh disiplin dengan pondasi agama yang kuat dan bekal kepandaiannya berpidato.

Saat bertugas di Sumatera Selatan, Pak AR bergabung dengan BKR TNI Hizbullah (1944-1945). Setelah sepuluh tahun, beliau kembali ke Yogyakarta dengan menjabat sebagai kepala KUA Yogyakarta.

Pak AR Fakhruddin ketika berpidato dalam Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta

Pada tahun 1964, Pak AR mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Agama Universitas Islam Sultan Agung, tetapi ditolak. Malah beliau diangkat menjadi dosen. Pak AR juga dipercaya untuk menjadi dosen di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang.

Pada tahun 1969, A.R Fakhruddin mengemban amanah menjadi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada Muktamar ke-42, akhir Desember 1990 di Yogyakarta, beliau tidak bersedia dicalonkan kembali menjadi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Aktivitas setelah purna dari PP Muhammadiyah, Pak AR tetap aktif berceramah di Masjid dan menjadi kolumnis di berbagai media. Beliau juga memiliki rubrik Pak AR Menjawab di harian Kedaulatan Rakyat.

Pada Jumat, 17 Maret 1995 pukul 08.10 WIB beliau menghembuskan nafas terakhir pada usia 79 tahun. Dedikasi, loyalitas dan peran beliau untuk umat selalu dikenang hingga sekarang. @IMBS_Information Centre

Tausiyah

Pesantren Pertama di Indonesia

Arsip